invisible hit counter

Follow US

Hipertensi dalam Kehamilan: Jenis, Bahaya, dan Cara Mengatasi

Hipertensi dalam Kehamilan: Jenis, Bahaya, dan Cara MengatasiHipertensi dalam kehamilan seringkali dianggap berbahaya. Namun, sebenarnya ada berbagai tingkatan hipertensi atau tekanan darah tinggi yang dapat terjadi pada ibu hamil. Beberapa tingkatan tersebut sebaiknya diketahui oleh ibu hamil agar ibu dapat merawat diri sendiri. Setiap tingkatan juga membutuhkan cara penanganan yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa jenis tingkatan hipertensi yang dapat dialami oleh ibu hamil.

Jenis-Jenis Hipertensi dalam Kehamilan yang Wajib Anda Ketahui

Menurut seorang ahli dari Society of Obstetric Medicine, darah tinggi atau hipertensi kadang sudah dialami ibu sejak sebelum hamil, dan dapat menjadi lebih parah pada masa kehamilan. Berikut ini adalah tingkatan dan jenis tekanan darah tinggi yang dimaksud.

  • Hipertensi Gestasional

Hipertensi dalam kehamilan pada jenis pertama ini ialah hipertensi gestasional. Hipertensi ini biasanya terjadi setelah ibu memasuki masa 20 minggu kehamilan. Sebagai tingkat teraman pada kasus hipertensi dalam kehamilan, hipertensi gestasional ditunjukkan dengan tidak adanya kandungan protein pada urin serta tidak ada tanda-tanda kerusakan pada organ dalam. Dalam beberapa kejadian, hipertensi jenis ini dapat berkembang menjadi preeklamsia.

  • Hipertensi Kronis

Pada tahap ini, hipertensi pada kehamilan terjadi sebelum masa 20 minggu kehamilan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda kenaikan tekanan darah, serta tidak dapat diprediksi kapan hipertensi kronis dapat terjadi. Pada beberapa kasus, hipertensi kronis ini juga terjadi bahkan sebelum masa kehamilan.

  • Preeklamsia

Preeklamsia kadang muncul tanpa sebab. Namun hipertensi gestasional dan hipertensi kronis dapat menjadi penyebab preeklamsia. Kondisi preeklamsia merupakan kondisi dimana ibu hamil mengalami tekanan darah tinggi dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ. Biasanya preeklamsia terjadi setelah masa 20 minggu kehamilan.

Preeklamsia dapat menyebabkan beberapa masalah serius pada kehamilan, baik pada ibu maupun pada janin. Selain tekanan darah tinggi dan kerusakan sistem organ, preeklamsia juga ditandai dengan kandungan protein yang berlebihan pada urin. Jika tidak ditangani dengan tepat, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi pada ibu dan janin.

Meski secara umum ada indikasi awal apakah seorang ibu terjangkit preeklamsia atau tidak, namun kadang juga tidak ada gejala yang dirasakan saat preeklamsia terjadi. Tekanan darah dapat naik secara perlahan, namun tidak jarang pula naik secara mendadak sehingga menyebabkan hipertensi dalam kehamilan. Oleh karena itu, tekanan darah selama kehamilan sebaiknya selalu diperiksa secara berkala karena tanda pertama preeklamsia adalah kenaikan tekanan darah hingga 140/90 (mm Hg) atau lebih dari itu.

  • Hipertensi Kronis dengan Preeklamsia

Tingkat hipertensi ini terjadi pada wanita hamil yang telah mengalami hipertensi kronis pada masa sebelum kehamilan, lalu berkembang pada masa kehamilan. Perkembangan kondisi ini disertai dengan meningkatnya kandungan protein pada urin dan juga kerusakan pada sistem organ.

Akibat dari Hipertensi Selama Masa Kehamilan

Tekanan darah tinggi atau hipertensi bukan hanya memiliki dampak buruk pada orang biasa. Kondisi ini memiliki dampak yang lebih buruk apabila dialami pada masa kehamilan. Berikut dampak yang dapat terjadi karena hipertensi dalam kehamilan.

  • Terganggunya Aliran Darah ke Plasenta

Darah yang dibawa dari jantung ke plasenta merupakan darah yang kaya akan oksigen. Apabila aliran darah yang dibawa ke plasenta terganggu atau berkurang, maka oksigen yang diterima oleh janin juga terganggu bahkan berkurang. Kekurangan oksigen dapat membahayakan bayi, terutama dapat menyebabkan gangguan pernapasan bagi bayi.

Selain oksigen, darah juga membawa sari-sari makanan ke plasenta. Apabila sari makanan ini berkurang atau terganggu,  maka pertumbuhan bayi akan terkena dampaknya. Bayi dapat terlahir prematur atau memiliki berat badan yang kurang.

  • Placental Abrubtion

Placental abrubtion merupakan kondisi dimana plasenta terlepas dari rahim sebelum saat kelahiran. Keadaan ini dapat disebabkan oleh preeklamsia serta dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Keadaan ini dapat menyebabkan pendarahan pada rahim serta rusaknya plasenta.

  • Bayi Lahir Prematur

Kesehatan ibu harus terus dijaga selama masa awal kehamilan hingga persalinan. Salah satu yang harus dijaga adalah tekanan darah. Tekanan darah serta faktor kesehatan lain harus dijaga untuk menghindari komplikasi yang dapat menyebabkan bayi lahir prematur.

  • Penyakit Kardiovaskular

Kardiovaskular atau penyakit yang terjadi pada pembuluh darah dapat terjadi di kemudian hari apabila ibu pernah mengalami hipertensi pada masa kehamilan. Jika sampai pada level preeklamsia dan kelahiran prematur, risikonya semakin besar. Kesehatan ibu dapat dijaga dengan rajin berolahraga secara teratur serta menjaga berat badan ideal. Selain itu, asupan gizi sebaiknya juga dijaga demi kesehatan ibu dan janin, seperti perbanyak mengonsumsi sayuran dan buah.

Tips dan Cara untuk Mengatasi Penyakit Tekanan Darah Tinggi

Hipertensi dalam kehamilan dapat diatasi dengan beberapa cara. Selain dengan pola hidup sehat seperti olah raga dan tidur teratur, hipertensi dapat diatasi dengan pola makan yang benar dan asupan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa cara untuk meringankan kondisi hipertensi dalam kehamilan.

  • Mengurangi Garam (Sodium)

Garam yang berlebihan dapat menyebabkan darah tinggi bukanlah mitos belaka. Makanan dengan kandungan rendah garam dan kandungan natrium dapat mencegah terjadinya darah tinggi. Apabila sedang terkena hipertensi, maka hindari makanan yang mengandung garam. Selain garam, hindari konsumsi produk makanan instan dan siap saji.

  • Diet Khusus untuk Menjaga Tekanan Darah

Diet ini dilakukan dengan tujuan mengurangi tekanan darah dan mengurangi risiko bertambah parahnya masalah tekanan darah yang dialami. Diet ini dilakukan dengan mengonsumsi makanan tertentu selama masa kehamilan. Makanan tersebut meliputi buah-buahan, sayuran, makanan rendah lemak, susu rendah lemak, biji-bijian, daging unggas, ikan, dan kacang-kacangan.

Diet ini juga mampu mengatasi masalah obesitas pada ibu hamil. Menurut penelitian, obesitas juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya tekanan darah. Selain mampu mengurangi obesitas, diet ini juga dapat meningkatkan antioksidan yang baik bagi tubuh sehingga zat jahat keluar dari tubuh.

  • Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi

Cairan sangat diperlukan oleh tubuh. Sebaiknya ibu menjaga jumlah cairan dalam tubuh dengan minum banyak air dalam satu hari. Jenis minuman yang diminum sebaiknya air putih dan hindari konsumsi kafein dan alkohol karena kafein dan alkohol dapat menaikkan tekanan darah.

  • Konsumsi Suplemen yang Tepat

Beberapa suplemen dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi dalam kehamilan. Penggunaan suplemen sebaiknya menggunakan resep dokter, agar ibu mendapatkan suplemen yang tepat baik dalam bentuk pil ataupun kapsul. Beberapa kandungan suplemen yang dapat membantu menekan risiko hipertensi pada ibu hamil antara lain adalah ALA (Alpha Linolenic Acid) yang juga bisa didapat dari ragi, ginjal, hati, brokoli, bayam, dan kentang, dan Omega 3 yang bisa diperoleh dari asam lemak ikan salmon, sarden, cod, walnut, dan tahu.

Selama masa kehamilan, ibu bisa saja mengalami beberapa masalah hipertensi yang meliputi hipertensi gestasional, hipertensi kronis dan preeklamsia. Komplikasi antara hipertensi kronis dan preeklamsia juga bisa saja terjadi. Sebaiknya, ibu hamil melakukan pengecekan tekanan darah secara berkala dan menjaga pola hidup seperti pola makan dan tidur untuk menghindari hipertensi dalam kehamilan, yang tentunya akan berbahaya baik bagi ibu maupun bayi dalam kandungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *